Loading
 
 
 
Pajak Kejar Pemilik Perusahaan Cangkang 
Amnesty Molor, pajak Ancam Berlaku Keras 
Giliran Dosen Jadi Incaran Otoritas Pajak 
Panama Papers, Ini Cara Sembunyikan Aset dan Bebas Pajak 
Data Kartu Kredit Akan Dipakai untuk Kejar Wajib Pajak 
Menkeu Beberkan Pola Penggelapan Pajak Orang RI 
Incar Pajak Pribadi, Menkeu Kumpulkan 4.551 Petugas Pajak 
Jokowi: Isi SPT Online Saja, Tak Perlu ke Kantor Pajak 
Punya Masalah Pajak? Adukan ke Komite Pengawas Perpajakan  
Setoran Pajak Orang Pribadi Hanya Rp 9 Triliun di RI  
 
 
News
SINDO WEEKLY, No. 2 tahun I, 2012, 26-Maret-2012
 
 

"ANAK-ANAK NAKAL" PAJAK DI UJUNG BELATI KEJAKSAAN

Skandal dugaan korupsi dan penggelapan pajak yang melibatkan Dhana Widyatmika masih belum terang.

 

Sementara itu, sumber SINDO Weekly mengatakan kalau seorang eks pejabat eselon Ditjen Pajak punya rekening gendut yang angkanya fantastis.

Sumber itu bilang dia kerap jadi ‘mesin ATM’ para pejabat.

Baru setahun memimpin, Direktorat Jenderal Pajak Fuad Rahmany harus mencemaskan hal lain di luar pekerjaan utamanya mengamankan target setoran pajak: mafia pajak. Ini istilah yang paling popular sejak pecahnya skandal Gayus Tambunan, eks pegawai Ditjen Pajak yang mendadak kaya raya dari menilap pajak. Tapi, belum lagi badai skandal itu usai, Fuad dan seluruh jajarannya kembali pusing.

Pekan ketiga Februari, Kejaksaan Agung menahan Dhana Widyatmika Merthana, eks pegawai pajak, dengan tuduhan korupsi, penggelapan pajak, dan pencucian uang. Dari penyitaan harta dan rekening, pejabat Kejaksaan bilang Dhana adalah pegawai negeri dengan harta yang tak wajar. Disebut-sebut kekayaannya mencapai Rp60 miliar. Hampir disaat yang sama pula, polisi membuka kasus Ajib Hamdani, eks pegawai pajak yang lain. Ajib digadang-gadang punya rekening Rp17 miliar (lihat: “Jerit Perlawanan dari Ceger”).

“Dhana dan Ajib anak-anak nakal,” kata Fuad awal pekan ini. Ini pernyataan terkahirnya setelah sekitar dua pekan lebih bergerilya di tv, mencoba mempertahankan nama baik korps pajak. Media jangan pukul rata,” Pintanya. “Tak perlu buang waktu untuk meributkan kasus Dhana dan Ajib terus-menerus, sudah ada Kejaksaan yang menangani,” imbuhnya.

Tapi, baris terakhir pernyataan Fuad itu sebenarnya sedikit berlebihan. Hingga Selasa pekan ini, Kejaksaan baru dua kali memeriksa Dhana. Tapi di dua kesempatan itu pun, menurut pengacara Dhana, Daniel Alfredo, pemeriksaan “masih sebatas administrasi dan riwayat pekerjaan”. Ini waktu yang lama, utamanya bagi publik yang sudah dua pekan lebih menanti hujan pembuktian. Sejak awal kasus, Kejaksaan mengirim banjir tuduhan pada Dhana dan istrinya, Dian Anggraeni, yang tercatat sebagai pegawai aktif Ditjen Pajak.

Nah, dengan semua itu, kenapa Fuad memilih nama Dhana dan Ajib sebagai ‘anak nakal’? apakah dia dalam posisi seperti sejumlah pegawai Ditjen Pajak yang tak membeli tuduhan Kejaksaan atas Dhana?

SINDO Weekly mendengar bahwa ada iklim dukungan yang kuat di kalangan pegawai pajak level menengah pada Dhana dan Dian. Dalam kasus Dhana, Kejaksaan menetapkan Dian sebagai saksi.

Nah, saat Dian diperiksa pertama kali di Kejaksaan pada Kamis (8/3), untuk pertama kalinya pula diberlakukan sesi doa rutin setiap jam 8 pagi di Gedung Ditjen Pajak di bilangan Gatot Subroto, Jakarta. Di pengeras suara gedung, ada ajakn berdoa, memohon perlindungan dari segala marabahaya selama bekerja. Ada pula ajakan mohon kekuatan melewati cobaan yang menerpa Ditjen Pajak. Siang harinya di lantai 19, pusat Direktorat Keberatan dan Banding, tangis pecah di kalangan pegawai perempuan saat Dian Pamit untuk berangkat ke Kejaksaan. Mereka cemas, Dian bakal naik status jadi tersangka. Banyak dari mereka yang tak memberi tuduhan Kejaksaan pada keluarga Dhana.

Sumber SINDO Weekly mendengar kalau sebelum Dian berangkat ke Kejaksaan, Fuad sempat menawarkan jasa pengacara, yang kemudian dijawab oleh Dian kalau dia sudah tak punya uang lagi. Sejak Dhana ditangkap, Dian hidup dengan uang Rp28 juta ditabungan. Untuk membayar pengacara dia menjual sebuah mobil keluarga. Fuad kabarnya bilang kalau Dian cukup mencai dana talangan di awal, dan jika Dhana di kemudian hari tak terbukti bersalah, Ditjen Pajak bakal mengganti seluruh ongkos.

Sumber yang sama bilang kalau kasus Dhana memicu banyak keterkejutan di kalangan pegawai pajak, pasalnya, Dhana tidak ada dalam daftar ratusan pegawai pajak yang diduga Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi keuangan (PPATK) memiliki rekening yang tak wajar. Justru, kata sumber, ada nama lain yang lebih dulu jadi sasaran gosip. Pangkalnya adalah pemberitaan sebuah media online Jakarta yang sempat menurunkan berita dengan bersumber dari keterangan Ketua PPATK, Muhamad Yusuf. Disebutkan di situ bahwa bakal ada gayus berikutnya. Dia dikabarkan punya rekening Rp60 miliar dan belum lama ini melakukan transaksi US$250.000.

SALAH SATU PEGAWAI TERKAYA

Sumber SINDO Weekly mengatakan kalau tudingan mengarah pada sosok Achmad Sjarifuddin Alsah. Siapa Alsah?

Dia adalah eselon 2 Ditjen Pajak dengan total harta, berdasarkan laporan kekayaannya ke KPK pada 2007, Rp10,4 miliar-salah satu yang tertinggi diantara semua pejabat pajak (lihat: “Kisah Miring di Akhir Pengadilan”). Dia pernah menjadi Kepala Pajak Gambir, sebelum belakangan menjadi Direktur Pajak Pertambahan Nilai. Belakangan, namanya ikut terseret dalam skandal Melinda Dee, karyawan senior Citibank. Disebut-sebut, melinda menilap Rp1 miliar di rekening Alsah. Pada 2009, Alsah juga sempat digadang-gadang bakal menggantikan Hadi Purnomo, Dirjen Pajak sebelum Darmin Nasution.

Sejauh ini, nama Alsah tak pernah menyita perhatian besar, bahkan saat disebut dalam kasus Melinda Dee. Nama Alsah baru muncul di media internet pada pekan lalu, terkait sikap KPK atas isi laporan kekayaan pegawai pajak.

Sumber-sumber SINDO Weekly bercerita kalau munculnya nama Alsah dalam sepekan terakhir adalah bagian dari apa yang mereka gambarkan sebagai perlawanan diam kalangan Ditjen Pajak. Sumber bilang selepas penangkapan Dhana, Dian mendapat kabar kalau Intelejen dan Penyidikan Pajak telah bolak-balik memeriksa istri Alsah terkait isi rekening suami-istri tersebut.

Apa kata Alsah ihwal semua gosip tertuju pada dirinya? Ini masih misteri. SINDO Weekly sempat berkomunikasi singkat dengan Alsah pekan lalu. Dari pembicaraan di telepon, dia meminta dihubungi sehari kemudian untuk mengatur jadwal wawancara. Tapi, saat kami menghubungi keesokan harinya, teleponnya mati. Tak ada respons selama beberapa jam, hingga sebuah SMS datang dan mengabarkan kalau dia sudah pensiun dari Ditjen Pajak.

Kenapa Alsah diam? Adakah dia memang seperti yang digosipkan? Ataukah dia hanya korban dari riak permainan internal di Ditjen Pajak dan memilih diam karena pertimbangan lain?

Permintaan tanggapan ke Direktur Humas Ditjen Pajak, Dedi Rudaedi, tak berbalas. “Saya sudah menyampaikan ke Pak Dirjen, tapi beliau keburu dipanggil Menkeu untuk rapat jam 5 sore,” katanya via SMS, Selasa lalu.

Fuad sendiri sempat menanggapi pertanyaan SINDO Weekly terkait desas-desus bahwa kasus Dhana adalah ‘kasus titipan’, buah pertikaian Ditjen Pajak dan Kejaksaan terkait nilai pajak sebuah perusahaan. Fuad menjawab: “Maaf, saya tidak mau kasih komentar tentang hal ini. Anda mendapatkan info ini dari siapa?” Selebihnya, dia bilang lebih memilih diam sambil menunggu kelarnya penyidikan Kejaksaan. “Rasanya saya sudah terlalu banyak bicara soal Dhana,” katanya.

Senada dengan itu, Ketua PPATK Muhammad Yusuf, menampik kalau kasus Dhana adalah ‘kasus titipan’. “Titipin dari mana? Setahu saya tidak,” katanya. Sementara itu, Direktur Penyidikan Kejaksaan Agung, Arnold Angkouw, mengatakan kasus Dhana masih dalam tahap penyidikan sehingga tak bisa berkomentar banyak.

 
Print This Article | Send This Article
     
 
  Copyrights (c) 2000-2011 OMNI SUKSES UTAMA All Rights Reserved. Disclaimer.